Jati diri didasarkan pada kesadaran
tentang essensi keberadaan kita sebagai manusia,baik sebagai makhluk individu,makhluk
social dan makhluk Tuhan, disertai kesadaran yang kuat bahwa hidup adalah
perjuangan. Secara umum jati diri diartikan sebagai identitas yangmengandung
ciri-ciri khusus yang berfungsi sebagai penanda keberadaan maupun pembeda bagi
seseorang dengan yg lain.
Jati diri bangsa merupakan nilai luhur budaya
bangsa. Jati diri bangsa juga mengandung pengertian sebagai identitas bangsa
yang berfungsi sebagai penanda keberadaan, pencerminan kondisi dan pembeda
dengan bangsa lain. Sedangkan budaya merupakan hasil dari kebiasaan, tingkah
laku dan kepecayaan yang ada pada suatu kelompok umat manusia dalam kurun waktu
dan tempat tertentu. Oleh karena itu setiap daerah memiliki budaya yang unik
dan berbeda dengan daerah lainnya. Keunikan budaya yang beragam telah
menjadikan budaya sebagai sebuah identitas yang dimiliki suatu kelompok
manusia. Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar yang memiliki
keberagaman terbanyak didunia.
Angklung telah
ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (Intangible, Cultural
Heritage of Humanity) oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan (UNESCO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan November 2010.
Angklung telah ditetapkan pula sebagai alat pendidikan musik sejak tanggal 23
Agustus 1968 melalui keputusan menteri kebudayaan No.082/1968 tentang penetapan
angklung sebagai alat pendidikan musik namun sampai saat ini pengembangan
maupun penerapannya di sekolah-sekolah masih sangat minim.
Angklung adalah alat
musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam
masyarakat sunda dan di pulau jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari
bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi yang
bergetar dalam susunan nada 2,3, sampai nada 4 dalam setiap ukuran, baik besar
maupun kecil.
Angklung tradisional
terdapat di berbagai daerah (Jawa, Madura, Bali, Sumatera, Kalimantan) di
Indonesia, misalnya angklung banyuwangi, angkulung ini termasuk kombinasi
angklung yang dipukul seperti gamblang, xylophone dan angklung yang digoyangkan
dengan tangan. Namun angklung yang saat ini banyak dikenal adalah angklung yang
digoyangkan dengan tangan berawal dari ide kreatif Bapak Daeng Soetigna pada
tahun 1938 dengan system tanggan nada diatonic sedangkan angklung tradisional menggunakan
tangga nada pentatonic. Perubahan angklung tradisional pentatonic dengan segala
dungsinya bagi masyarakat menjadi angklung diatonic modern inilah yang
berdampak pada pengembangan musikal dan perspektif budaya.
Dalam permainan music
tradisional ada adat istiadat ritual yang menyat permainannya untuk kesuksesan
bersama atau ritual religi yang didukung sehingga muncul nilai-nilai, mengolah
kepekaan rasa, permainan tidak berdasarkan hitungan tetapi lebih komunikasi
musikal antar instrument yang satu dengan yang lain, muncul kebersamaan,
individu tidak boleh terlalu menonjol dan harus melatih menguasai ego agar
keharmonisan permainan tetap terjaga. Sejak penggunaan tangga nada diationik
barat, cirri-ciri budaya modern dapat tampak jelas dalam fenomena permainan
angklung ini. Budaya modern memiliki ciri berlaku universal, universal sciens,
teori-teoti universal, berlaku seluruh dunia termasuk untuk ilmu-ilmu social
seperti halnya ilmu alam. Dari cirri-ciri filosofi modern tampak bahwa kesenian
angklung setelah dengan sistem diatonik menjadi angklung modern yaitu, hukum
berlaku universal, individu menonjol, bebas dari nilai-nilai aturan religi,
sangat kuantitatif dengan perhitungan yang lebih rijid.
Angklung tradisional
dipergunakan untuk peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut hajat dan kehidupan
orang banyak, seperti pesta-pesta keluarga atau upacara-upacara pesta panen,
turun bumi, seren taun dimana seluruh lapisan masyarakat ada dalam suasana
sukacita, senantiasa dilengkapi dengan cara menyanyi, menari dan iringan musik
bambu dan angklung. Angklung tradisional dimiliki hamper diseluruh wilayah
Indonesia hal ini karena materi bahan angklung yang terbuat dari bambu.
Sejak diperkenalkan
angklung diatonik oleh Pak Daeng angklung menuju dunia global. Angklung telah
menjelajah dunia di luar Indonesia. Sejak tahun 1971 pemerintah Indonesia
menjadikan angklung sebagai sarana dalam program diplomasi budaya. Angklung
sejak saat itu menyebar luas ke berbagai Negara. Di Korea Selatan, hingga kini
tercatat lebih dari 8.000 sekolah memainkan angling. Di argentina, angklung
telah menjadi mata pelajaran intrakurikuler yg menarik bagi siswa demikian pula
di Skotalnida. Sejak tahub 2002, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia
telah memberikan kesempatan bagis siswa-siswi dari mancanegara untuk belajar
dan mengenali angklung di Indonesia. Kini angklung tidak hanya menjadi alat
musik kebanggaan Indonesia, tetapi menjadi media untuk meningkatkan rasa
persahabatan antar bangsa di dunia.
Musik angklung merupakan
pengembangan pengaruh budaya timur Indonesia dengan budaya barat khususnya pada
pemikiran modern. Angklung tradisional yang bertangga nada pelog, sendro, Pak
Daeng soetigna mampu berkembang dari instrumen tradisi menuju kancah instrumen
modern. Angklung sebagai musik lokal di berbagai daerah di Indonesia menuju
Global melalui pementasan di berbagai Negara, pengukuhan dari UNESCO sebagai
warisan budaya tak benda Indonesia,melalui dunia maya serta dunia pariwisata.
Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki.Angklung (19 Nov ’15)
www.jatidiribangsa.com
(18 Nov ’15)
https://agussupri177.wordpress.com
(18 nov ’15)
www.kelasindonesia.com
(18 nov ’15)
https://srihartatiblogdotcom.wordpress.com
(18 Nov ’15)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar